Berjalan Dalam Diam

Ada orang yang melakukan diam karena enggan untuk angkat bicara, ada orang yang diam karena hadirnya tak lagi berharga, ada juga orang diam karena dia sudah terlalu kecewa dan masih banyak alasan kenapa orang melakukan diam, tapi bagiku diam adalah pemberontakan.

Pemberontakan pada diri, pemberontakan pada kasih dan pemberontakan pada hari.

Aku berjalan dijalan setapak tak berujung, jalan setapak penuh kerikil kerikil tajam tak berduri, jalan setapak penuh suka dan duka.

Satu persatu rintangan tantangan dilalui, bau amis dikaki perlahan luntur bersama lumpur, jejak jejak telapak penuh harap mulai tercipta.

Panas matahari perlahan mulai berganti, sinar yang tadi terang kini mulai gelap, langit yang tadi cerah kini mulai mendung.

Air-Nya turun membasahi ranting dedaunan, menghasilkan embun yang menusuk hingga kedalam sukma yang paling dalam,

Hingga sang angin datang menerpa membawa terbang perasaan dan rumput menari menari mengiringi lantunan nada sang burung bernyanyi.

Yogyakarta, 21 maret 2018

Advertisements

Satu atap beda pintu

Tegur sapa yang mulai luntur

Melangkah bersama, menjejakan kaki dipulau orang, adat istiadat yang berbanding 360° dari biasanya, membuat suara yang biasa keras perlahan mulai melembut, leher yang biasa dangak perlahan mulai menunduk, mulut yang biasa enggan untuk menyapa kini mulai terbiasa untuk berkata.

Berada dalam satu atap mereka tinggal bersama, tiga orang sahabat yang memiliki tujuan yang sama mulai menemukan teman-teman barunya, obrolan hangat yang biasa tercipta perlahan mulai luntur.

Tawa, canda, cerita yang biasa tercipta dibawah atap genting perlahan mulai hilang, satu persatu dari mereka kini mulai sibuk pada urusannya masing-masing,

Kursi dari rotan yang biasa mereka duduki dengan lama kini mulai dingin dan berdebu, meja yang biasa berantakan karena bungkus camilan kini mulai bersih dan mulai ternodai oleh debu,

Aroma bumbu yang biasa menusuk ke lubang hidung dan gemericik gesekan alat masak yang biasa terdenger di telinga kini telah tiada, kini debu dan jaring laba-laba tak terkondisikan lagi.

Hingga semua telah sungkan untuk menyapa dan mendahului sebuah percakapan, hingga akhirnya rumah yang menjadi tempat berkumpul kini hanya menjadi tempat beristirahat bagaikan losmen.

Disudut Kedai

Beratap ilalang berdinding anyaman bambu menciptakan suasana hangat pada kedai dan petikan senar gitar musisi menambah lengkap suasana malam, sayang aku hanya sendiri.

Terpaan angin malam itu membuatku berpaling ke sudut kedai, jari jemari lentik terlihat sibuk merapikan rambut yang tergerai, senyum manis bagaikan madu manambah sempurna paras cantiknya.

Kucuri curi pandang, kunikmati senyum manisnya, kubayangkan suara lembutnya. Asap kopi yang manari nari disudut mejanya membuat ku membayangkan keberadaanya di hadapanku.

Malam semakin larut, kucuri curi pandang dan kulihat dirinya yang begegas membereskan barang bawaanya dan segera beranjak meninggalkan kedai.

Tapi sayang semua hanya berujung pada khayalan, hingga akhirnya bola mata tak mampu melihat keberadaannya lagi, semua berlalu bagaikan angin malam ini.

Blog at WordPress.com.

Up ↑